Internet Of Things : When Internet Makes Everything Possible

Hai! 😀

Jadi ini postingan pertama yang gak ada hubungannya sama materi softskill-softskill itu (masih sih sebenernya). Tapi sebelumnya kan bener-bener langsung isi, to the point, gak ada kata pengantar, pendahuluan, rumusan masalah (?). Nah di postingan ini barulah saya, aku, gue, ogut, abdi, bener-bener ngetik what’s on my mind, gak copas-copas dari internet ataupun dari fotokopian dari dosen. Finally feel proud about myself *tepok tangan dong*.

Pada kesempatan inii, gue bakal nge-share tentang IOT. Pernah denger, liat, atau ngepoin tentang IOT ini gak? Kalo udah kalian boleh scroll down dan meninggalkan postingan ini (becanda ding, bre). Kalo belom, silahkan meluangkan waktu anda untuk terus membaca tulisan ini.

IOT adalah singkatan dari “Internet Of Things”. Nah, udah kebayang belom? Jadi, IOT ini adalah suatu konsep dimana hampir seluruh (bahkan memang seluruh) kegiatan manusia, khususnya di bidang ekonomi, lingkungan, dan kebutuhan sehari-hari, yang dilakukan dengan berbasis internet dan teknologi yang tersambung secara terus-menerus. Mulai dari hal kompleks seperti mendeteksi kerusakan pada jalan saat sedang berkendara sampai ke hal-hal sederhana seperti penunjuk arah.

Istilah IOT ini diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999. Ia berkomentar “Internet of Things memiliki potensi untuk mengubah dunia seperti yang pernah dilakukan oleh internet , bahkan mungkin lebih baik (Ashton, 2009).

Untuk bisa mewujudkan konsep ini, dibutuhkan storage yang besar untuk menyimpan data-data yang dibutuhkan, dan pastinya data-data tersebut pasti akan saaangaaattt banyak dan besaarr. Tidak ada storage yang mampu menampung data-data tersebut. Nah, oleh karena itu digunakanlah suatu teknologi lain yang menjadi kunci dari IOT ini, yaitu cloud computing. Pernah denger pasti kan? Kalo belom suruh temen kalian ngomong “cloud computing…cloud computing” di telinga kalian. And now you have officially heard this thing *paan si rim*.

Biar adil, dijelasin deh apa itu cloud computing. Kalau bahasa indonesianya, cloud computing ini artinya “komputasi awan”. Awan disini merupakan metafora dari internet, sebagaimana awan yang sering digambarkan di diagram jaringan komputer. Cloud computing adalah semacam storage yang tidak terlihat bentuk fisiknya (tidak seperti flashdisk, hardisk, dll), dimana file-file yang kita simpan di storage ini terpusat di internet. Menurut sebuah makalah tahun 2008 yang dipublikasi IEEE Internet Computing “Cloud Computing adalah suatu paradigma di mana informasi secara permanen tersimpan di internet dan tersimpa sementara di komputer pengguna (client), termasuk di dalamnya adalah desktop, komputer tablet, notebook dan lain-lain”. Jadi cloud computing ini bisa dikatakan sebagai storage yang ada di ‘awan’, tidak terlihat bentuknya, tapi bisa muncul jika kita butuhkan sewaktu-waktu.

Lalu apa hubungannya cloud computing dan IOT?

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, IOT membutuhkan storage yang besar, nah disinilah peran cloud computing diperlukan. Data-data untuk keperluan IOT akaan disimpan pada cloud computing. Oleh karena itu, cloud computing sangat penting untuk kelangsungan hidup IOT.

Lalu bagaimana IOT di Indonesia?

Di Indonesia, device-device seperti smart watch, smart TV sudah lazim di kalangan masyarakat. Bagaimana dengan smart city?

Pada akhir 2014 lalu konsep smart city sudah mulai berkembang di Indonesia. Beberapa kepala daerah di Indonesia sudah mencanangkan konsep Smart City, seperti Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dan Basuki Tjahaja Purnama (Gubernur Jakarta). Konsep ini pun akan mulai diikuti oleh kepala-kepala pemerintahan di daerah lain, seperti Banyuwangi, Banda Aceh, Balikpapan dan Makasar. Beberapa penerapan konsep Smart City di Indonesia :

  1. E-Government
  2. E-Budgeting
  3. Jakarta Smart City Website
  4. Command Center di Bandung
  5. E-Village di Banyuwangi

Satu contoh smart city yang sudah sangat sukses adalah Kota Santander, Spanyol. Sejak tahun 2010, sudah terdapat 12500 sensor di kota tersebut, yang berfungsi untuk mengukur apapun, seperti jumlah sampah, jumlah tempat parkir yang tersedia sampai ke kepadatan di pusat kota. Nantinya data-data dari sensor-sensor ini akan dikirimkan ke komputer yang akan menganalisa data-data tersebut dan akan mengirimkan informasi seperti jumlah truk sampah yang dibutuhkan dan jumlah air yang dibutuhkan untuk menyiram taman kota. Keren ya, gitu aja bisa dikerjakan dengan sangat mudah, hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat dan boom! Semuanya selesai.

Namun, konsep smart city yang berbasis internet ini juga harus diimbangi dengan infrastruktur yang memadai, seperti koneksi internet yang bagus dan selalu tersambung, dan pusat pengendali sistem kota yang ter-integrated. Selain itu, kemungkinan untuk banyaknya kasus hacker juga harus dipertimbangkan. Apakah Indonesia siap menghadapi itu semua? Well, semoga saja. Karena dengan adanya smart city ini, semua kegiatan yang ribet, rumit, lama, akan dapat terselesaikan dengan satu sentuhan saja.

Welcome to the smart world! 😉

Sumber :

http://www.wired.com/insights/2014/11/the-internet-of-things-bigger/

http://iot.co.id/konsep-smart-city-dan-pengembangannya-di-indonesia/

http://iot.co.id/apa-itu-internet-of-things/

http://gudanglinux.com/glossary/internet-of-things/

http://www.theinternetofthings.eu/internet-of-things-iot

http://www.governing.com/topics/urban/gov-santander-spain-smart-city.html

http://iot.co.id/iot-manufacture-monitoring/

https://en.wikibooks.org/wiki/I_Dream_of_IoT/Chapter_4_:_IoT_and_Cloud_Computing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s